Giat Ops

Sedih, 3 Anak Kompol Aditia ini tahu Kondisi ayahnya jadi Korban Anarkhis di Wonogiri dari Youtube

Magelang Selatan –  Kondisi Kompol Aditia Mulya Ramdhani (35), eks Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Wonogiri menjadi korban pengeroyokan ketika terjadi bentrok antara 2 perguruan silat di Wonogiri, Mei 2019 lalu, mulai membaik.
“Papi, ayo cepat sembuh, kita berenang lagi,” begitulah ketiga anaknya; Junot (10), Calista (9), dan Bianca (8) kerap menyemangati sang ayah yang kini hanya terbaring di kamar.
Pasca pulang dari perawatan di Singapura pada 17 September lalu, Kompol Aditia, saat ini mengalami perkembangan yang cukup bagus. Sekarang ia sudah bisa merespons walaupun hanya dengan gerakan tangan ringan, senyum ataupun respon mata.
“Biasanya kalau anak-anak selesai belajar pada tiduran di samping Papinya, kalau mau berangkat sekolah juga pamitan, pulang sekolah juga,” ungkap Dewi (istri) Kompol Aditia.
Ketika awal kejadian, Dewi tidak mau menceritakan kepada anak-anaknya, tetapi akhirnya mereka mendapat informasi tentang kejadian yang menimpa ayahnya saat sedang membuka YouTube. Walau dengan berat hati, Dewi tetap harus menceritakannya secara perlahan.
“Alhamdulillah mereka bisa menerima, bahkan terus menyemangati,” lanjutnya.
Dari pihak Polri, perhatian akan terus diberikan baik dari Polda Jawa Tengah maupun Mabes Polri. Sejumlah perwira dari Mabes Polri, diantaranya AKBP M. Iqbal dari Polda Jawa Tengah mendatangi rumah Kompol Aditia untuk membesuknya, Jumat (18/10) waktu lalu.
“Kondisi anak-anaknya sehat., kita komunikasi keluarga untuk mensuport mental dan batin,” jelas AKBP M. Iqbal saat ditemui Bengawan News ketika di Kota Solo.
Mereka tinggal di Perumahan Taman Sari Hills, Mangunharjo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, di Blok D05/11. Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Bhayangkara Semarang, dr. Niken Diah, mengatakan alasan Kompol Aditia dirawat di rumah karena kondisinya sudah stabil.
“Memang perkembangannya sudah bagus, sudah bisa merespon. Misal kalau tidak nyaman dipegang dibagian mananya, tangannya menarik atau bergeser, itu merespon,” jelasnya.
Tidak hanya itu, sejumlah Dokter Umum maupun Spesialis dari RS Bhayangkara Semarang juga melakukan pemeriksaan secara rutin di rumah. Dokter Umum dan tim Dokter Spesialis, diantaranya; Spesialis Bedah, Mata, Syaraf, THT hingga penyakit dalam, juga rutin memantau kondisi Kompol Aditia.
Dokter Spesialis Bedah RS Bhayangkara Semarang, dr. Adi Purnomo, menjelaskan selain masih dipasang alat bantu nafas, juga dipasang alat untuk memasukan nutrisi makanan. Dari dinding perut langsung ke lambung. Alat bantu nafas itu diganti tiap 3 bulan, sementara alat bantu untuk memasukkan nutrisi makanan diganti tiap 6 bulan.
“Dua alat ini vital untuk kelangsungan hidup Kompol Aditia. Masih perlu dipasang karena kondisi kesadarannya yang belum memungkinkan melakukan sendiri,” tambah dr. Adi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!